. Cerdas 5 Menit: Kisah Patriotik Pahlawan Dibalik Lembar Uang Baru | Patriot NKRI

Cerdas 5 Menit: Kisah Patriotik Pahlawan Dibalik Lembar Uang Baru

Iklan 3360 x 280
iklan tautan

Patriot NKRI - Bank Indonesia secara resmi telah mengeluarkan seri uang baru pada Senin, 19 Desember 2016--bertepatan dengan peringatan atas agresi militer Belanda pertama 19 Desember 1948 dan juga pencanangan gerakan Trikora 19 Desember 1961.

"Di dalam setiap lembar rupiah kita tampilkan gambar pahlawan nasional, tari nusantara dan pemandangan alam Indonesia sebagai wujud kecintaan kebudayaan dan karakteristik bangsa Indonesia. Karena itu saya mengajak setiap insan di Tanah Air perlu terus mencintai rupiah dengan cara-cara yang nyata," kata Presiden Joko Widodo  saat meresmikan pengeluaran dan pengedaran uang rupiah emisi 2016 di Bank Indonesia, Jakarta, Senin ini.

Adapun nama-nama pahlawan dalam seri uang terbaru itu antara lain:

Dr (H.C.) Ir. Soekarno dan Dr (H.C.) Drs Mohammad Hatta--pecahan Rp100.000 (seratus ribu rupiah)

Dwi Tunggal Soekarno-Hatta dikenal sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Keduanya merupakan Presiden dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia. 

Ir H. Djuanda Kartawidjaja--pecahan Rp50.000 (lima puluh ribu rupiah)

Ir Djuanda, demikian diplomat asal Sunda ini akrab disebut, merupakan sosok yang berhasil menyatukan wilayah NKRI melalui Deklarasi Djuanda tahun 1957. Dalam deklarasi itu disebutkan bahwa laut di sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan dengan wilayah Indonesia. Lantaran itu Indonesia disebut sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS). 

Dr G.S.S.J. Ratulangi --pecahan Rp20.000 (dua puluh ribu rupiah)

Sam Ratulangi merupakan tokoh pergerakan nasional dari wilayah Indonesia Timur. Ia sejak muda dan sudah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang rajin menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat Indonesia. 

Frans Kaisiepo--pecahan Rp10.000 (sepuluh ribu rupiah)

Frans Kaisiepo pernah menjadi tahanan politik Belanda karena menolak penunjukkan dirinya sebagai wakil Belanda untuk Wilayah Nugini (Papua dan Papua Nugini) dalam Konferensi Meja Bundar. 

Dr K.H. Idham Chalid--pecahan Rp5.000 (lima ribu rupiah)

Idham Chalid merupakan tokoh dari Nahdlatul Ulama yang turut berjuang dalam masa-masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tokoh Masyumi awal ini juga turut berkiprah dalam kabinet Indonesia sampai masa orde baru.

Mohammad Hoesni Thamrin--pecahan Rp2.000 (dua ribu rupiah)

Tokoh asal Betawi ini punya jasa besar dalam penghapusan diskriminasi buruh pada masa kolonial. Thamrin dan koleganya di Dewan Rakyat (Volksraad) berjuang untuk penghapusan Poenale Sanctie--sebuah ordonansi (undang-undang) mengenai kuli yang dimunculkan pada 1880 dan diperbarui pada 1889. Dalam ordonansi ini, pemerintah kolonial memberikan wewenang kepada perusahaan perkebunan untuk memberi hukuman pada kuli yang melanggar kontrak. Jika kuli dianggap melanggar kontrak atau malas bekerja, kuli tadi boleh diberi hukuman tanpa melalui proses peradilan. 

Tjut Meutia--dengan pecahan kertas Rp1.000 (seribu rupiah)

Tjut atau Cut Meutia merupakan satu dari sekian banyak perempuan Aceh yang berjuang melawan kolonialisme Belanda di Tanah Rencong. Ia memimpin gerilya di hutan-hutan Aceh untuk mengobarkan perlawanan.

Mr. I Gusti Ketut Pudja--pecahan logam Rp1.000 (seribu rupiah)

Tokoh asal Bali ini menjadi ikut serta dalam perumusan negara Indonesia melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil (saat ini Bali dan Nusa Tenggara).

Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang--pecahan Rp500 (lima ratus rupiah).

TB Simatupang, satu dari sekian banyak jenderal asal Batak, pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. Dalam masa-masa mempertahankan kemerdekaan ia menjadi salah satu pilar penentu strategi perang saat itu di daerah Banaran, Kulon Progo, Yogyakarta. 


Dr Tjiptomangunkusumo--dengan pecahan Rp200 (dua ratus rupiah).

Eugene Francois Douwes Dekker, bersama Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hadjar Dewantara, mendirikan Indische Partij pada 1913. Partai itu menampung semua golongan dan ras yang ada di Hindia Belanda. Ia termasuk tokoh pergerakan Indonesia di awal abad 20.

Prof Dr Ir Herman Johanes--pecahan Rp100 (seratus rupiah).

Herman Johannes seorang ahli fisikawan dan kimiawan Indonesia. Keahliannya membantu para pejuang untuk dalam melakukan aksi militer seperti meledakkan sejumlah jembatan guna menahan gerak pasukan Belanda. 

Sumber: tirto.id
iklan 336 x 280